Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Wanitaku

Hai, sapaku, dan langit adalah bola matamu apakah kau bersedih? tanyaku. matamu mengucurkan hujan yang biru aku tenggelam oleh durjamu. jangan risau, kataku, akan kubikinkan kau pelangi aku tahu itu bohong saja dan kamu pun mengerti aku bukan matahari. tak perlu, jawabmu, cukup berdiri di situ dan jangan pergi, mohonmu lagi, tangismu menjelma salju. tidak akan, kubilang, dan senyumanku ialah telaga yang mengendapkan luka diam-diam aku mendengar malaikat berbisik, konon takdirku adalah menjadi hati tempatmu melabuh di kemudian hari. tapi kau akan menderita, cemasmu, wajahmu menjadi purnama yang mendung dan berdebu. aku tak apa, tegarku, dan air mata lindap dari sungai-sungai kering di wajahku dadaku telah jadi samudera yang bisu. pergilah, bisikku, kamu 'kan kutunggu kelak, pulanglah bila tak seorang pun lagi yang cinta padamu. aku rumahmu. (Malang, 2 Februari 2018)

Puisi Tanpa Judul

aku mencintaimu semenjak dari derita yang paling hampa kaugenggam jemariku dan berkata: "Jangan putus asa, aku ada." kaupeluk ragaku yang hampir runtuh; hangat napasmu di bibirku cairkan gegunung ketakutan tentang esok yang tak diperuntukkan padaku; yang tenggelam di kubangan kebinasaan "Senyumlah kembali, aku di sini," bisikmu lirih dan kepalamu jatuh di pundakku yang tak teguh kautuntun langkahku pergi kauajak berlari "Kita selamanya!" teriakmu dan dadaku bungah oleh harapan-harapan yang berdua kita patri di kedalaman impian dan aku semakin terjerembab di cintamu yang paling palung dan sunyi kurekat hatiku kuat-kuat kugenggam dirimu hebat-hebat Hingga suatu petang, takdir angkuh menggunggungmu menjauh kisahku dipaksa tamat: dalam sekejap duniaku kiamat. (Malang, 19 Januari 2017)

Babi-Babi Kebencian

aku melihat anak kecil menadah langit dengan mata menyalang terang aku mendengarnya berbisik kepada Tuhan "aku ingin pulang" aku hampiri ia, tubuhnya berjelaga, kubertanya "engkau mau pulang ke mana?" ia berbisik ke dalam diriku "ke tempat di mana kebencian lebih pemalu dari perawan" aku menyelami bola mata anak kecil itu melalui tingkap wajahnya kulihat diriku bertanya padaku tentang bisikanku pada Tuhan melalui bibir anak kecil itu kudengar suaraku bergetar lirih padaku yang memaku "pulanglah, selagi pagi, sebelum kebencian mengutukmu jadi babi" (Malang, 7 Januari 2017)

Aku

/1/ Aku adalah sepotong siang dalam sebungkus ilusi Di kepalaku malam hilang ada yang tiba-tiba menabur pagi /2/ Aku adalah ampas kopi basi di dasar cangkir kotor di sudut meja Dalam dadaku kupu-kupu bernyanyi "Engkau bidadari, tuntas kausesap hitam getir luka" /3/ Aku adalah sebutir debu senja di pucuk sehelai kerudung hitam yang merangkum gunung dan telaga diembus desah napasmu aku khatam /4/ Aku adalah jejak di lumpur-lumpur lunak kemarau abadiku air matamu fanaku (Malang, 6 Januari 2017)

Potret Matamu yang Kuperam dalam Kotak Kenangan

Matamu seperti kelereng yang kuperebutkan dalam permainan masa kecil. Dulu aku boleh merajuk, menangis darah bila kalah dalam permainan itu lalu matamu menjadi milik temanku. Kini aku cukup tersenyum. Merencanakan permainan yang lebih masuk akal. Seperti misalnya, pura-pura memintamu bergaya di depan kameraku, demi sekelumit kenang-kenangan tentang sekejap waktu yang kau habiskan denganku, kataku. Lantas diam-diam aku menyekap matamu dalam selembar foto tanpa pigura, untuk kubawa-bawa, untuk kutatap dan kuajak bercerita tentang dunia yang makin gila, pun rencana-rencana yang mengangkangi realita. Juga untuk kupajang baik-baik di dinding kamarku meski kau telah tiada. Selamanya kuperam dalam kotak ingatanku hingga kita sama-sama menua dan kau pun lupa bahwa di satu masa di belakang sana, kita pernah saling menyentuhkan kepala. (Malang, 4 Januari 2017)

Mimpi yang Bisu dan Nestapa yang Kau Sembunyikan dalam Kepura-puraan yang Lara

/1/ Aku mengejarmu hingga ke kaki Semeru, kutemukan mega senja yang terlampau usang di bukit-bukit terjal dan tubir-tubir berbatu. Di tepian Ranupane petang itu, rona wajahmu jatuh menimpa riak telaga yang beku, membuncah senyap hingga kepingan-kepingannya berderai seperti tawamu, melingkupi langit dengan halimun malam seharum desah napasmu. Dalam gigilku yang menghebat, kau merangkumku ke dalam pagutan liar yang hangat, aku lantas takluk oleh mimpi yang tak bersuara. Sedang bayanganmu bernyanyi-nyanyi dalam kebisuan yang lara.

Nyanyianku

Sayang, akan kunyanyikan sebuah lagu untukmu. Lagu tentang riuh darah dalam nadiku yang tengah mengangkut milyaran partikel rindu. Tentang lembayung yang bertengger teduh di pelupuk matamu kala kautatap aku dengan cinta yang meluap-luap seperti amuk taufan di tengah samudera. Tentang ciuman terakhir kita pada suatu malam yang sepi dari deru-deru cemburu. Tentang camar-camar yang tertawa pada kita. Tentang pepasir lembut yang menempel di pipimu. Juga tentang kerentaan jiwaku yang meretak di semua sudutnya, seperti talam yang berkarat dan penuh lubang, di hari ketika kau mati, lalu berhenti menjadi bidadari. Sayang, bila nanti laguku tak syahdu, pura-puralah seakan kau menikmatinya. Seperti mana diriku yang senantiasa berpura-pura menganggapmu masih ada. (Malang, 26 Oktober 2016)

SIANG YANG BUNGKAM

Sayang, lihatlah ke luar jendela rumah kita, lalu ke mataku, dapatkah kautangkap rintik halus serupa serbuk sari bunga? Yang menabur? Yang membaur? Lihat sekali lagi, rintik itu berkilauan, bukan? Itu adalah kita. Kita yang merapuh dalam kerentaan waktu. Kita yang bergumul bersama pudarnya terik surya yang perlahan disimbah hujan. Kitalah zaman yang segera lekang. Serupa rintik itu. Kita akan segera digunggung terbang oleh sayap-sayap kefanaan. Di siang hari yang bungkam. Kala segala keperihan telah kita tuai dengan segenap suka cita. Dan kau, Sayang, adalah kepingan jiwaku yang akan kudekap hingga siang ini lenyap. Lantas kita tertawa di lahat yang sama. Saling memeluk. Saling berbisik tentang kematian yang teramat manis. Yang tadi pagi menyapa kita. Sama-sama. (Malang, 26 Oktober 2016)

PERSIMPANGAN

Aku tersesat di suatu persimpangan jauh. Jumlahnya enam. Eh, tujuh. Eh, delapan. Eh, entahlah. Aku tak tahu. Semuanya mengungkung seperti jari-jari sepeda tua ibuku, dan aku berkunang-kunang di sumbunya. Berkelindan seperti geligi-geligi berkarat. Aku menggapai kait-kait langit serupa suluh semangka yang menggelantung di antara sepasang bola mata cokelat tua. Di bawah atap merah darah yang memburam ketika senja turun seperti merpati jinak. Gapaianku tak tuntas, aku terhempas lepas dari persimpangan itu dan terlempar ke suatu ruang antara hitam dan putih yang pucat. Aku gamang menerka dan membaca arah angin yang berputar-putar di kepalaku. Ruang itu merekah ke segala penjuru. Mengembang seperti roti terendam ragi. Menggelembung laksana balon-balon warna-warni yang kuhadiahkan padamu pada suatu annyversary. Lalu aku melihatmu tersenyum di langit. Mengutukku jadi batu, lalu menghantamku dengan palu, hingga mendebu. Setelah semua gelap itu perlahan menyurai dari pandanganku, tiba-tiba aku...

Kefanaanku

Keabadian tak hadir di sela-sela huruf yang bertalian membentuk nama-nama kita, Sayang. Ia lebih suka bermasyuk ria dengan kerinduan pahit yang kukecap di sepanjang jalan menuju lobus-lobus terjauh di relung kepalaku. Akankah ia fana? Mana kutahu. Kadang ia lelap saja sebentar, sementara aku tertawa pias-pias menyesap teh-teh panas yang basi, beserta hati yang ditekan semati-mati. Bisa saja beberapa kedip kemudian, ia menyala terang bagai api abadi di kuil-kuil Zoroaster, memberangus kewarasanku. Lantas bagaimana mungkin kutahbiskan diriku sebagai pejuang yang memenangkan perang melawan kenangan? Sedangkan dari sudut jauh saja kulihat kau tersenyum, pada dedaunan yang menguning di ujung taman kampus kita, tektonik dua digit seolah diruahkan ke dalam jasadku. Bingar. Ingar. Hingga rasanya sangkakala disegerakan tiupannya detik itu jua. Bila nama-nama kita tak abadi, bisakah kematian menjadi kefanaan satu-satunya bagi perasaan purbaku ini, Sayang? (Malang, 24 Oktober 2016)

Retak (I)

Di pelataran mimpi yang bersinggungan dengan bibirmu yang ranum laksana buih pantai di malam pasang Aku terantuk derita yang mengeras seperti jejak lumpur dipanggang kemarau Kau keindahan yang padu Berselancar selalu di tungku gairahku yang telah padam dan berdebu Merangkumku dalam khayal yang nyata dan tidaknya sama saja: perih Bila lelah ini tak dapat tertanggungkan oleh remah-remah asa yang terkikis menipis Apatah lagi oleh sesuatu dalam dadaku yang detaknya tak lagi harmonis? Sebab tlah kau renggut ianya Tlah kau cerabut nyawanya Mayat itu aku Hidup tapi tak bernyali Untuk sekadar menatapmu kembali __________________ Malang, 12 Oktober 2016 Miko Waldufri

Elok Wujudmu yang Menghilang di Suatu Pagi Nan Buta (Sebuah Puisi)

Kita pernah berdiri di hampar pualam merah delima. Menyulam senyum di sepasang bibir ranum kala itu. Tertegun mengurai sabda cinta dan janji setia. Kau bak safir, tertanam elok pada sekeping cincin putih yang tak tersentuh. Bagai sebutir bintang kemilau yang disembunyikan kelam saat purnama telah berlalu lima belas hari. Kau berbisik laksana semilir aroma puspa yang menelisik halus ke dalam kesadaran lelakiku. Membangunkan segenap impian tentang harap ijab di suatu waktu yang kita namakan masa depan. Nafasmu hangat, melipurku dari kegundahanku akan senja yang telah asing, tanah yang tak berjejak, langit yang tak bertangkup, tegak yang tak bertiang. Lantas manakala jam dinding terjungkang pungkang dari angka dua belas, kau raib bersama tetesan embun pagi buta yang menguap dihisap kabut. Musnah beserta remah-remah cerita yang pernah kita dekap. Menghapus ribuan langkah yang pernah kita derap. Malang, 5 Februari 2015 Di bulan yang, katanya, penuh kasih sayang.

Janjimu Pada Setangkup Hatiku yang Dulu Layu (Sebuah puisi)

Ingatkah kau akan janji yang kautuangkan ke setangkup hatiku yang dulu layu? Ia bertumbuh tiada tahu musim dan zaman Nan berlari bak kilatan burak menuju arasy Tuhan: Cepat mekarnya. Hebat tegaknya. Lebat pengharapannya. Mencengkeram palung bumi hingga tujuh lapis kubur purba di dasar merapi. Janjimu sempurna memporak-porandakan tabir mimpi buruk di setiap langkah ringkih yang kupelihara diam-diam tanpa ucap. Ia bak duyung yang mengapungkanku kembali setelah terbujur menyasar lantai samudra beku di Atlantika. Bagai sehelai dawai syahdu di gitar tuaku yang kehilangan nada ria. Berselasar teduh, bertonggak teguh, bersirap rindang merencah masa. Lalu tatkala jenuh menerpamu di suatu malam nan legam, masihkah kau ingat akan janji yang kautuangkan ke setangkup hatiku yang dulu layu? Malang, 1 Februari 2014 Miko Waldufri