Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi Mini

#10DaysKF Hari ke-2: Histeria Manusia Jomblo

Gambar
Sebutkan tiga hal yang kemungkinan besar akan membuatmu histeris! Sumber gambar: Hyperallergic Sebentar, aku sejenak berpikir. Apa sebenarnya maksud dan misi tersembunyi si Momon #KampusFiksi dengan merumuskan daftar pertanyaan semacam ini untuk event #10DaysWritingChallenge yang diadakannya? Rasanya seperti sedang diinterogasi oleh calon mertua, dengan deretan pertanyaan ala ala psikotes begitu dalam rangka sayembara rahasia menjaring calon menantu. Selain melamar jadi menantu, kamu juga sedang melamar kerja, yang bila gagal salah satu kelar sudah hidupmu? Atau jangan-jangan, kamu yang sebenarnya sedang nyari jodoh, Mon? Saking bosannya menolak peluang kerja di mana-mana? Kalau iya, aku mundur, aku nggak mau ikut terpedaya oleh tipu daya syaiton si Momon yang jomblo menahun macam dirimu, takut tertular! Kecuali kalau kamu punya adik cewek kayak Maudy Ayunda, nggak apa-apa aku tetap lanjut. Piye, Mon Momon? Halo, Mon? Woi, bajigur! Awan-awan malah Turu!

AMBANG WARAS

Kemarin petang, aku bersua Hartono, karibku semasa kuliah dulu yang kini jadi saudagar kaya raya. Toko ritelnya ada di mana-mana. Selain perutnya yang tidak lagi diam dengan tenang di balik kemejanya, beriak bergelombang tiap ia bergerak dan tertawa, serta kepalanya yang bersaput uban di sana-sini, tak ada yang berubah. Caranya menyapaku, masih selayaknya kawan lama yang seolah tak pernah dipisahkan rentang tiga puluh tahun lebih waktu. "Kau harus menikah," ucap Hartono dengan selayang tatapan prihatin berikut kasihan. "Siapa yang mau bersuamikan lelaki tua pesakitan sepertiku?"

Mimpi (I)

Apa yang kupikirkan? Aku memikirkanmu; tengah menari-nari di pinggir sungai yang jernih. Lagunya syahdu. Kau menatapku, menarik lenganku. Aku gugup, kukatakan bahwa aku tak pandai menari. Kakiku kaku, kataku. Lalu kaubilang tak apa, kau tersenyum, kau bersandar di dadaku. Tarianmu selesai. Kau merengkuh bahuku lebih erat. Kau bilang kau takut aku hilang. Kataku, aku tak akan pernah pergi. Meski aku mati suatu pagi, aku akan selalu denganmu. Kau tak akan pernah sendiri. Kau menciumku, matamu berembun, bibirmu bergetar. Biar aku yang mati dahulu, isakmu. Aku menyanggahmu, aku tak ingin sendiri di dunia. Biar kutunggu kau di pintu surga. Biar aku lebih dulu mati. Kau boleh menyusulku setelahnya. Kau tak mau, kau meratap. Semakin erat pelukanmu hingga sesak rasanya dadaku. Kemudian, hujan tumpah ruah. Bising kudengar menimpa atap. Aku terbangun. Celakanya, aku lupa kau siapa. Aku tak ingat wajahmu, gadis yang memeluk dan menciumku dalam tidur sebentar itu. ...

Gadis Ilusi

Aku melihatmu. Dan aku tak percaya benar-benar melihatmu. Atau, jangan-jangan otakku telah begitu berkabut oleh ilusi-ilusi aneh sehingga menyangka yang duduk di sana, sendirian, murung, adalah dirimu, padahal mungkin saja itu wajah seseorang yang lain. Kamu tersenyum. Bukan, bukan padaku. Pada pelayan yang mungkin menanyai kamu mau minum apa, sebab beberapa saat kemudian pelayan itu berlalu dan datang lagi mendekatimu menghidangkan segelas air putih. Air putih? Bukankah kamu terbiasa memesan paling tidak, Kopi hitam?