Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

TAK ADA MAUDY AYUNDA LAGI BESOK PAGI

Siang ini aku jalan kaki jauh sekali di tengah terik matahari yang membuat ubun-ubunku berkedut. Hanya untuk menjemputmu ke Mal. Aku tidak memikirkan akan membawamu pulang naik apa. Yang jelas aku harus menemuimu dulu dan menjelaskan tentang perasaanku. "Kamu seriusan jalan kaki?" Aku mengibas leher kausku yang basah berkeringat sambil senyum megap-megap dengan muka terasa menghitam. "Iya, jalan kaki. Seperti yang kamu lihat." Kamu mematutku seperti alat scanner security, dari atas ke bawah, berkali-kali. "Kurang kerjaan banget, sih." Gerutumu dengan kening berlipat-lipat serta bibir mengkerut--namun tentu saja kamu tetap cantik. "Kan, bisa naik ojek online yang murah."

Nayla

Segelas Ice cappucino di pukul setengah dua malam dengan udara beku menusuk tulang? Cewek aneh. Seharusnya dia membutuhkan secangkir kopi panas untuk menjaga tubuhnya tetap hangat. Atau barangkali dia suka minuman jahe hangat? Aku bisa membikinkan untuknya. “Mbaknya nggak salah pesan minuman, kan?” kutaruh gelas itu di hadapannya sambil tersenyum hati-hati. Dia menggeleng. “Duduk di dalam aja, mbak, dingin banget lo di sini.” Dia menggeleng lagi. Aku mengangguk. “Ya udah, paling nggak jaketnya cukup tebal buat menghangatkan badan.” Ujarku sok akrab. Dia melirik sekilas jaket kulit yang dikenakannya, tersenyum, hambar.

Apel Merah dalam Amplop Putih

Seminggu ini, aku mulai sibuk menghitung-hitung sisa tanggal di bulan Juni. Setiap hari, aktivitasku dalam ruangan pengap ini hanyalah menatap lembaran kalender lusuh yang ditempel tak simetris di tembok. Kurang lebih dua minggu lagi, pikirku dalam hati, sumringah. “Adrian Chaniago.” Seorang sipir muda melangkah mendekati ruanganku dan mengulurkan sebuah amplop kecil berwarna putih melalui sela-sela jeruji, ”Ada titipan untukmu.” “Oh,” Kulirik sekilas nametag sipir muda itu, dia orang baru di sini. “Terima kasih, Tomi. Pak Tomi, maksud saya.” Kusambar amplop itu agak kasar sambil melempar senyum sinis pada si sipir. Dia membalasku dengan ekspresi datar lantas beranjak menjauh. Sebuah surat tanpa nama?

Melapuk 2

  Aku sedang bersiap-siap, mengemas barang-barang. Pagi ini, kami—aku dan istriku—akan meninggalkan kampung. Pekerjaanku telah menunggu di kota. Dalam seminggu ini saja sudah tiga kali bosku yang cerewet itu menelepon menyuruhku segera kembali. Padahal sebagai orang yang paling susah meliburkan diri dari pekerjaan, aku tentu punya hak untuk menuntut cuti lebih panjang. Anggaplah ini semacam ‘pembalasan dendam’ atas jatah-jatah liburan yang selama ini kubiarkan menumpuk.

Melapuk

Oleh: Jumaiko Ahmadi  (Ditulis di bulan Maret 2012) Pagi tadi, aku tiba di rumah. Pulang kampung setelah lima tahun hidup di perantauan tak pernah bersua dengan ibu. Malam ini ibu langsung memburuku dengan pertanyaan klasik yang selalu beliau tanyakan padaku semenjak tiga tahun terakhir ini melalui percakapan lewat telepon dan surat-suratnya. “Jadi, kapan kau akan menikah, Yung?”

Depok in Hurt

Oleh: Jumaiko Ahmadi (Juni 2013) Sudah telat sepuluh menit. Film di teater 4 sudah main, namun aku masih berdiri bimbang sepuluh langkah dari loket pembelian tiket. Ra, aku ingin menonton film ini dengan kamu. Aku berharap sekali kamu ada di sini sekarang denganku. Cuma kamu, Ra, bukan dia. Sudah tidak ada lagi dia… *** 1 Januari 2012 “Hah? Abang pengen balik ke Depok?” Tanyanya kaget, “Kenapa?” “Aku pengen nyoba masuk UI, Ra…” “Lho? Abang ngulang kuliah lagi?” “Iya….” “Kok gitu? Terus kuliah Abang yang kemaren gimana?”