Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita-Cerita

Tentang Dunia yang Sempit dan Jaring-Jaring Nasib

Gambar
Alkisah, nyaris 5 tahun silam, saya berkenalan dengan seorang penulis blog yang rajin nulis puisi di facebook melalui sebuah kebetulan yang remeh. Kami rajin saling mengomentari status, dari canda-candaan garing hingga menggalau-galaukan diri dengan saling sambung puisi yang kemudian oleh si teman ini ditulis ulang dalam bentuk puisi duet.

TAK ADA MAUDY AYUNDA LAGI BESOK PAGI

Siang ini aku jalan kaki jauh sekali di tengah terik matahari yang membuat ubun-ubunku berkedut. Hanya untuk menjemputmu ke Mal. Aku tidak memikirkan akan membawamu pulang naik apa. Yang jelas aku harus menemuimu dulu dan menjelaskan tentang perasaanku. "Kamu seriusan jalan kaki?" Aku mengibas leher kausku yang basah berkeringat sambil senyum megap-megap dengan muka terasa menghitam. "Iya, jalan kaki. Seperti yang kamu lihat." Kamu mematutku seperti alat scanner security, dari atas ke bawah, berkali-kali. "Kurang kerjaan banget, sih." Gerutumu dengan kening berlipat-lipat serta bibir mengkerut--namun tentu saja kamu tetap cantik. "Kan, bisa naik ojek online yang murah."

Mozaik-Mozaik Wajahmu (2)

Logikaku berhenti bekerja. Aku menyugesti diri dengan bermacam kemungkinan positif bahwa keadaannya akan baik-baik saja. Namun aku gagal. Sekuat aku membantah pikiran-pikiran buruk itu, lesatan-lesatan imaji negatif itu menyerang kesadaranku lima kali lipat lebih tangguh. Ada apa denganku? Kenapa aku begitu mengkhawatirkanmu hingga ke tahap yang mungkin tidak lagi bisa ditolerir sebagai suatu kewajaran? Aku menutup wajah erat-erat. Aku tak sanggup menatap apapun yang berada di hadapanku. Karena bila kulakukan, ketakutan akan kehilanganmu menari-nari di setiap objek pandanganku. Aku... Merindukanmu... Sungguh-sungguh... Kenapa kamu menghilang?

Mozaik-Mozaik Wajahmu

Kadang aku seperti gila, melihat senyumanmu di setiap perempuan yang berlalu lalang di sekitarku. Aku menampar pipi, mencubit lengan, bahkan menjambak rambut. Tetapi bayangan itu tetap ada. Di lain saat, aku terkejut, seorang perempuan tertawa di sebelahku ketika aku duduk di salah satu bangku tunggu di lantai satu gedung fakultas, aku mendengar suara tawamu. Begitu nyata, begitu jelas, sejelas matahari di siang terik.