Postingan

Denganmu, Aku Ingin Mengabadikan Segala Hal

Gambar
Hai, namaku Miko. Malam mingguku, well, tidak terlalu baik. Aku ingin mengaku sebagai novelis dan pekerjaanku adalah menulis, tapi, seperti yang Josh bilang kepada Ruby dalam film Already Tomorrow in Hong Kong , "I think you should have to finish the book before you call yourself a novelist," barangkali sebaiknya aku tidak menggunakan kata itu untuk menggambarkan siapa aku saat ini. Walaupun, ya, aku sedang menuju ke sana, novel pertamaku sedang ditulis dan menunggu rampung — menulisnya sudah sejak 2014, omong-omong — jadi, anggap saja, "Kind of." Aktivitas keseharianku memang semacam itu, atau tidak jauh-jauh dari situ. Menulis coretan-coretan untuk karya orang lain juga, misalnya. Memangnya apa hubungannya pekerjaanku yang so called novelist wannabe ini dengan Smartphone Idaman 2018? Banyak. Banyak sekali. Aku bisa menguraikannya satu per satu padamu.  Pertama, aku butuh satu alat berteknologi canggih dan mutakhir untuk meningkatkan kepercayaan ...

Ngomongin Film 'Dilan 1990': Memanggil Ulang Kenangan di Kepala Masing-masing

Gambar
Foto milik Falcon Pictures P eringatan: tulisan ini akan panjang dan membosankan, penuh spoiler , ngalor-ngidul gak jelas seenak yang nulis, dan sama-sekali tidak akan membantumu masuk surga. Sebaiknya dahulukan sholat dan baca Qur’an dan mengerjakan PR hehehe. Pertama-tama, perlu kuberitahukan kepada khalayak budiman bahwa aku menonton film ini tanpa ekspektasi yang tinggi, tidak berharap banyak, karena sampai malam itu, ketika akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya setelah seminggu lebih plesetannya viral di mana-mana, film drama percintaan remaja terbaik menurutku masih dipegang oleh Posesif (2017). Jadi begitu, aku tetap menonton karena memang cuma ingin mendapatkan hiburan ketimbang bengong di kosan mengingat-ingat kenangan sama mantan. Dan syukur-syukur kalau ternyata bisa membuktikan kebenaran rekomendasi dari teman-temanku dan mematahkan perasaan skeptis dalam diriku sebelum-sebelumnya. Enaknya menonton tanpa ekspektasi apapun adalah kamu akan enjoy dan tenang ...

Wanitaku

Hai, sapaku, dan langit adalah bola matamu apakah kau bersedih? tanyaku. matamu mengucurkan hujan yang biru aku tenggelam oleh durjamu. jangan risau, kataku, akan kubikinkan kau pelangi aku tahu itu bohong saja dan kamu pun mengerti aku bukan matahari. tak perlu, jawabmu, cukup berdiri di situ dan jangan pergi, mohonmu lagi, tangismu menjelma salju. tidak akan, kubilang, dan senyumanku ialah telaga yang mengendapkan luka diam-diam aku mendengar malaikat berbisik, konon takdirku adalah menjadi hati tempatmu melabuh di kemudian hari. tapi kau akan menderita, cemasmu, wajahmu menjadi purnama yang mendung dan berdebu. aku tak apa, tegarku, dan air mata lindap dari sungai-sungai kering di wajahku dadaku telah jadi samudera yang bisu. pergilah, bisikku, kamu 'kan kutunggu kelak, pulanglah bila tak seorang pun lagi yang cinta padamu. aku rumahmu. (Malang, 2 Februari 2018)

Puisi Tanpa Judul

aku mencintaimu semenjak dari derita yang paling hampa kaugenggam jemariku dan berkata: "Jangan putus asa, aku ada." kaupeluk ragaku yang hampir runtuh; hangat napasmu di bibirku cairkan gegunung ketakutan tentang esok yang tak diperuntukkan padaku; yang tenggelam di kubangan kebinasaan "Senyumlah kembali, aku di sini," bisikmu lirih dan kepalamu jatuh di pundakku yang tak teguh kautuntun langkahku pergi kauajak berlari "Kita selamanya!" teriakmu dan dadaku bungah oleh harapan-harapan yang berdua kita patri di kedalaman impian dan aku semakin terjerembab di cintamu yang paling palung dan sunyi kurekat hatiku kuat-kuat kugenggam dirimu hebat-hebat Hingga suatu petang, takdir angkuh menggunggungmu menjauh kisahku dipaksa tamat: dalam sekejap duniaku kiamat. (Malang, 19 Januari 2017)

Memikirkan 1910 Cara Kematian

Hai, Oktober. Kamu datang lagi, ya. Terlalu cepat, kurasa. Belum beberapa kejap kakiku berjalan-jalan di sudut-sudut September yang kering, berdebu dan sunyi, tahu-tahu kau telah berdiri di sini, di hadapanku, merentangkan tanganmu lebar-lebar, menatapku dengan bola mata beningmu yang dapat kuselami kedalamannya yang sarat ingatan-ingatan; menerbitkan kelu di sekujur tubuhku yang masih belum sepenuhnya pulih dari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu harus menamainya apa. Luka? Mana ada luka yang tak sembuh bertahun-tahun lamanya? Cemen sekali kalau aku harus takluk oleh hal-hal dramatis seperti itu. Yekan?

Tatkala Mata dan Hati Letih Mencari Cara untuk Dapat Lelap dalam Deru Malam yang Bising oleh Ingatan-ingatan

Gambar
pixabay.com Apa yang kupikirkan saat ini? Banyak. Aku terbiasa memikirkan banyak. Banyak sekali, hal-hal yang tak bisa kupilah dan kupilih pentingkah atau tidak aku memikirkannya, atau, berugunakah ia kupikirkan atau justru sia-sia, atau, ke mana ujung dari pikiran-pikiran itu akan mengacu.  Banyak yang kupikirkan, banyak sekali, sampai-sampai sukar rasanya aku menghela napas, sulit nian meningkahi pikiran-pikiran itu, berdamai sejenak, semalam saja, agar aku bisa menambatkan tubuh yang lusuh ini pada dinginnya malam, agar mampu kurebahkan denyar di dada dengan sedikit memejamkan mata dan memberi kuasa kepada mimpi untuk mengambil alih nyawa yang tersisa di raga. Apa yang kupikirkan saat ini?

Review Film Annabelle 2: Creation (No Spoiler)

Gambar
Tadinya, saya sedang bosan, lalu iseng melihat-lihat jadwal tayang film terbaru di bioskop-bioskop kota Malang dan mendapati film ini diputar di banyak layar; hak istimewa yang biasanya hanya didapatkan oleh film-film laris yang ditunggu-tunggu penggemarnya. Saya sendiri nggak  ngeh kalau tahun ini ada rilisan prekuel dari film Annabelle (2014) yang rilis tiga tahun lalu, yang sayangnya mendapat ulasan buruk dari kritikus dengan hanya memperoleh rating 29% di situs kritik film  Rotten Tomatoes . Didorong oleh kekecewaan pada film itu pula, saya tidak begitu tertarik untuk berebut menonton Annabelle 2: Creation ini di awal-awal tayang di bioskop. Saya pikir, ah paling juga bakal membosankan kayak film sebelumnya. Walaupun sempat kaget dengan rating 100% fresh yang diberikan kritikus di Rotten Tomatoes, sesuatu yang amat langka terjadi di perfilman Hollywood, apalagi untuk kategori film horor, saya tetap saja tidak begitu tertarik.