Postingan

Puisi Tanpa Judul

aku mencintaimu semenjak dari derita yang paling hampa kaugenggam jemariku dan berkata: "Jangan putus asa, aku ada." kaupeluk ragaku yang hampir runtuh; hangat napasmu di bibirku cairkan gegunung ketakutan tentang esok yang tak diperuntukkan padaku; yang tenggelam di kubangan kebinasaan "Senyumlah kembali, aku di sini," bisikmu lirih dan kepalamu jatuh di pundakku yang tak teguh kautuntun langkahku pergi kauajak berlari "Kita selamanya!" teriakmu dan dadaku bungah oleh harapan-harapan yang berdua kita patri di kedalaman impian dan aku semakin terjerembab di cintamu yang paling palung dan sunyi kurekat hatiku kuat-kuat kugenggam dirimu hebat-hebat Hingga suatu petang, takdir angkuh menggunggungmu menjauh kisahku dipaksa tamat: dalam sekejap duniaku kiamat. (Malang, 19 Januari 2017)

Memikirkan 1910 Cara Kematian

Hai, Oktober. Kamu datang lagi, ya. Terlalu cepat, kurasa. Belum beberapa kejap kakiku berjalan-jalan di sudut-sudut September yang kering, berdebu dan sunyi, tahu-tahu kau telah berdiri di sini, di hadapanku, merentangkan tanganmu lebar-lebar, menatapku dengan bola mata beningmu yang dapat kuselami kedalamannya yang sarat ingatan-ingatan; menerbitkan kelu di sekujur tubuhku yang masih belum sepenuhnya pulih dari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu harus menamainya apa. Luka? Mana ada luka yang tak sembuh bertahun-tahun lamanya? Cemen sekali kalau aku harus takluk oleh hal-hal dramatis seperti itu. Yekan?

Tatkala Mata dan Hati Letih Mencari Cara untuk Dapat Lelap dalam Deru Malam yang Bising oleh Ingatan-ingatan

Gambar
pixabay.com Apa yang kupikirkan saat ini? Banyak. Aku terbiasa memikirkan banyak. Banyak sekali, hal-hal yang tak bisa kupilah dan kupilih pentingkah atau tidak aku memikirkannya, atau, berugunakah ia kupikirkan atau justru sia-sia, atau, ke mana ujung dari pikiran-pikiran itu akan mengacu.  Banyak yang kupikirkan, banyak sekali, sampai-sampai sukar rasanya aku menghela napas, sulit nian meningkahi pikiran-pikiran itu, berdamai sejenak, semalam saja, agar aku bisa menambatkan tubuh yang lusuh ini pada dinginnya malam, agar mampu kurebahkan denyar di dada dengan sedikit memejamkan mata dan memberi kuasa kepada mimpi untuk mengambil alih nyawa yang tersisa di raga. Apa yang kupikirkan saat ini?

Review Film Annabelle 2: Creation (No Spoiler)

Gambar
Tadinya, saya sedang bosan, lalu iseng melihat-lihat jadwal tayang film terbaru di bioskop-bioskop kota Malang dan mendapati film ini diputar di banyak layar; hak istimewa yang biasanya hanya didapatkan oleh film-film laris yang ditunggu-tunggu penggemarnya. Saya sendiri nggak  ngeh kalau tahun ini ada rilisan prekuel dari film Annabelle (2014) yang rilis tiga tahun lalu, yang sayangnya mendapat ulasan buruk dari kritikus dengan hanya memperoleh rating 29% di situs kritik film  Rotten Tomatoes . Didorong oleh kekecewaan pada film itu pula, saya tidak begitu tertarik untuk berebut menonton Annabelle 2: Creation ini di awal-awal tayang di bioskop. Saya pikir, ah paling juga bakal membosankan kayak film sebelumnya. Walaupun sempat kaget dengan rating 100% fresh yang diberikan kritikus di Rotten Tomatoes, sesuatu yang amat langka terjadi di perfilman Hollywood, apalagi untuk kategori film horor, saya tetap saja tidak begitu tertarik.

REVIEW THE GUYS

Gambar
Dari semua film-film Raditya Dika, secara subjektif saya harus sampaikan--dengan berat hati tentu saja karena saya selalu setia menikmati karya orang ini dari dulu--film The Guys berada di posisi paling bawah setelah Hangout. Ia seperti antiklimaks dari produktivitas Radit yang benar-benar 'keterlaluan' dalam mengeluarkan film-film terbaru. Seolah-olah film ini dibikin bukan oleh orang yang sama dengan yang menyutradarai Manusia Setengah Salmon, Marmut Merah Jambu, dan Single yang menurut saya di atas rata-rata film komedi sejenisnya (tiga judul ini menurut saya paling bagus dan terfavorit). Radit seperti kehilangan sentuhan magisnya di film ini. Memang masih tetap ada lucunya, tapi tak memadai. Humor-humornya terkesan biasa saja dan di beberapa adegan malah garing. Tanpa mengurangi penghargaan atas kerja keras dan dedikasi para kru film yang selalu "dipamerkan" Radit dalam vlognya selama proses syuting yang melelahkan itu, harus saya katakan bahwa naskah The Gu...

Menikmati Peluh Darah Perjuangan dalam Perantauan

Gambar
Gambar: gadangdirantau.wordpress.com Kredo yang jamak didengar itu, yang mengukuhkan bahwa lelaki Minang sesungguhnya terlahir membawa tabiat perantau dalam aliran darahnya itu, mungkin memang tepat adanya. Saat ini, berdasarkan itu pula barangkali bisa kutahbiskan diri sendiri sebagai lelaki Minang sejati (uhuk). Spirit merantau ini telah mengalir dalam nadiku sejak usiaku bahkan masih belum genap tiga tahun. Diboyong meninggalkan kampung halaman oleh papa dan mamaku menuju negeri nan jauh di seberang lautan sana, menyeberangi selat Malaka, dengan perahu tongkang nelayan seadanya, yang tiap lima menit sekali semua penumpang lelaki di atas perahu berebut menguras air laut yang merembes masuk tiada henti sepanjang malam agar kami semua tidak karam diamuk gelombang lautan yang mengganas, tubuh mungilku yang harus dibungkus plastik agar tidak kuyup kedinginan oleh guyur hujan dan tempias air laut, demi mencari nasib penghidupan yang lebih baik, tentu menjadi pengalaman hidup tak te...

#10DaysKF Hari ke-6: "What doesn't kill you makes you stronger"

Gambar
Sumber gambar: Funimation Gais, percayalah, diremehkan dan dianggap sebelah mata terhadap suatu hal yang kita banggakan itu nggak ada enak-enaknya sama sekali. Kalau ketemu orang-orang yang hobinya meremehkan kita seperti itu, rasanya pengen nyewa Apollo 11 buat ngirim itu orang ke Bekasi Planet Yupiter. Kayak aku misalnya, nih. Aku bangga sekali dengan gadis pujaanku itu, Maudy Ayunda. From the earth to the moon lah istilahnya cintanya aku sama dia. Tapi kamu tahu? Entah kenapa orang-orang selalu meremehkanku. Aku dituduh mengidap halusinasi akut. Nggak tahu diri. Bahkan ada yang berniat menyumbangkanku cermin segede lapangan sepakbola agar aku segera sadar dan insaf. Menyebalkan, memang. Padahal, kan, kalau dipikir-pikir dengan saksama, apakah mustahil aku bisa menikah dengan Maudy Ayunda? Yaaa , memang mustahil, sih.hehehe