Postingan

Mozaik-Mozaik Wajahmu (2)

Logikaku berhenti bekerja. Aku menyugesti diri dengan bermacam kemungkinan positif bahwa keadaannya akan baik-baik saja. Namun aku gagal. Sekuat aku membantah pikiran-pikiran buruk itu, lesatan-lesatan imaji negatif itu menyerang kesadaranku lima kali lipat lebih tangguh. Ada apa denganku? Kenapa aku begitu mengkhawatirkanmu hingga ke tahap yang mungkin tidak lagi bisa ditolerir sebagai suatu kewajaran? Aku menutup wajah erat-erat. Aku tak sanggup menatap apapun yang berada di hadapanku. Karena bila kulakukan, ketakutan akan kehilanganmu menari-nari di setiap objek pandanganku. Aku... Merindukanmu... Sungguh-sungguh... Kenapa kamu menghilang?

Mozaik-Mozaik Wajahmu

Kadang aku seperti gila, melihat senyumanmu di setiap perempuan yang berlalu lalang di sekitarku. Aku menampar pipi, mencubit lengan, bahkan menjambak rambut. Tetapi bayangan itu tetap ada. Di lain saat, aku terkejut, seorang perempuan tertawa di sebelahku ketika aku duduk di salah satu bangku tunggu di lantai satu gedung fakultas, aku mendengar suara tawamu. Begitu nyata, begitu jelas, sejelas matahari di siang terik.

Lebih dari Sekadar Bang Toyib

Atap kontrakan tiba-tiba bergemuruh, tak ada petir tak ada badai, hujan berjatuhan bak taburan koral. Aku yang sedang berkonsentrasi penuh di depan laptop , lari lantang-pukang ke belakang, memanjat tangga setinggi dua setengah meter ke tempat jemuran dengan satu napas. Hampir saja kecolongan. Cuaca di kota ini seperti remaja labil akhir-akhir ini, susah ditebak apa maunya. Usai meminggirkan pakaian (kurang) kering yang hampir saja basah kuyup itu, aku menengadahkan wajah ke langit. Allahumma shayyiban nafi'an . Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat bagi kami, bisikku lirih. Kupejamkan mata sejenak, kuabaikan tetesan-tetesan air itu menjamah wajahku, ada kedamaian di situ.

Nayla

Segelas Ice cappucino di pukul setengah dua malam dengan udara beku menusuk tulang? Cewek aneh. Seharusnya dia membutuhkan secangkir kopi panas untuk menjaga tubuhnya tetap hangat. Atau barangkali dia suka minuman jahe hangat? Aku bisa membikinkan untuknya. “Mbaknya nggak salah pesan minuman, kan?” kutaruh gelas itu di hadapannya sambil tersenyum hati-hati. Dia menggeleng. “Duduk di dalam aja, mbak, dingin banget lo di sini.” Dia menggeleng lagi. Aku mengangguk. “Ya udah, paling nggak jaketnya cukup tebal buat menghangatkan badan.” Ujarku sok akrab. Dia melirik sekilas jaket kulit yang dikenakannya, tersenyum, hambar.

Apel Merah dalam Amplop Putih

Seminggu ini, aku mulai sibuk menghitung-hitung sisa tanggal di bulan Juni. Setiap hari, aktivitasku dalam ruangan pengap ini hanyalah menatap lembaran kalender lusuh yang ditempel tak simetris di tembok. Kurang lebih dua minggu lagi, pikirku dalam hati, sumringah. “Adrian Chaniago.” Seorang sipir muda melangkah mendekati ruanganku dan mengulurkan sebuah amplop kecil berwarna putih melalui sela-sela jeruji, ”Ada titipan untukmu.” “Oh,” Kulirik sekilas nametag sipir muda itu, dia orang baru di sini. “Terima kasih, Tomi. Pak Tomi, maksud saya.” Kusambar amplop itu agak kasar sambil melempar senyum sinis pada si sipir. Dia membalasku dengan ekspresi datar lantas beranjak menjauh. Sebuah surat tanpa nama?

Semacam Normalisasi Otak, Mungkin?

Gambar
Apa kabar kamu? Udah lama banget nih nggak nge-blog ( Sok sibuk ). Walaupun begitu, hidup harus terus berlanjut, kita harus terus menulis, Kawan ( cieleh) . Mari, mari, ayo corat-coret lagi, cukup mati surinya, hampir setengah tahun, ayo bangkit merah putih untuk Indonesia lebih baik ( apa sih? ). Parah memang, ckck.

Hujan....

Gambar
I love the rain, but I love you more than that... Kita tidak pernah tumbuh bersama menjadi teman masa kecil. Ketika kita lahir, orang tua kita tidak pernah bercerita satu sama lain lalu menjodoh-jodohkan bayi mereka, bahkan mereka tidak saling mengenal. Kita tidak pernah memiliki hobi anak-anak remaja yang sama, kamu dengan dunia remajamu, aku dengan dunia remajaku.