Postingan

Hanya Sedikit Letih

Sudah pukul setengah sepuluh malam, udara kota ini mulai berembun, kulit tipis ini mulai digerayangi dingin yang dibawa semilir angin nakal. Dan seharusnya, dulu sekali, ketika saya masih mengenakan seragam putih-merah, di jam-jam seperti ini segala hiruk-pikuk sudah padam. Berganti bebunyian binatang malam yang sedang mendapat giliran pesta menggantikan makhluk siang. Pukul sembilan malam, terasa sudah amat gelap, anak-anak kecil disuruh segera berangkat ke tempat tidur, esok pagi mesti bangun subuh-subuh, sholat, lalu siap-siap ke sekolah. Itu dulu, belasan tahun lalu. Ah, rasanya baru kemaren sore saya menangis pulang sekolah gara-gara dibully teman-teman geng bandit di sekolahan. Oh, itu, cinta monyet itu, rasanya belum genap sehari dia terpangkas dari perasaan, ditolak.hahahaha

Siapa yang salah?

Gambar
Siapa yang salah ketika fenomena seperti ini terjadi di sebuah kampus besar? Apakah mahasiswa yang harus disalahkan karena dianggap mengkhianati identitas intelektualnya? Ataukah pihak birokrasi kampus yang perlu disadarkan agar memberikan fasilitas parkir yang lebih layak? Ironis, namun memang seperti inilah kenyataan yang tertangkap lensa kamera.

Tulisan Yang Berserakan

Selama beberapa menit saya tertegun di depan layar laptop, kembali mengalami sindrom yang sama setiap kali mengalami jalan buntu: NGEBLANK! Yap, untuk ke sekian kalinya saya terbengong-bengong menghadapi kenyataan bahwa tulisan saya masih belum selesai-selesai setelah berjam-jam terbengkalai dalam dua paragraf yang berantakan. Dan sekarang sedang memasuki jam yang ke-28 kurang lebih. Artinya, sudah sehari semalam plus sepagi tulisan saya macet! Arrrgggggghhhh (lagi menggigit ayam goreng)

Melapuk 2

  Aku sedang bersiap-siap, mengemas barang-barang. Pagi ini, kami—aku dan istriku—akan meninggalkan kampung. Pekerjaanku telah menunggu di kota. Dalam seminggu ini saja sudah tiga kali bosku yang cerewet itu menelepon menyuruhku segera kembali. Padahal sebagai orang yang paling susah meliburkan diri dari pekerjaan, aku tentu punya hak untuk menuntut cuti lebih panjang. Anggaplah ini semacam ‘pembalasan dendam’ atas jatah-jatah liburan yang selama ini kubiarkan menumpuk.

Dulu Pena Sekarang Keyboard

Saya terkenang akan beberapa kisah tentang para ulama dan ilmuwan di masa lalu. Entahlah, ingatan saya akan cerita-cerita itu muncul begitu saja ketika tahu-tahu saya ngeblank di depan layar laptop, membiarkan waktu terus bermanuver cepat menyalib saya, meninggalkan saya termenung tanpa tulisan apapun di lembar kerja Ms Word saya. Kursor berkedip-kedip, seolah mengejek saya yang masih belum menemukan ide untuk memulai sebuah tulisan. Lalu, ingatan itu berkelebat tiba-tiba.

Melapuk

Oleh: Jumaiko Ahmadi  (Ditulis di bulan Maret 2012) Pagi tadi, aku tiba di rumah. Pulang kampung setelah lima tahun hidup di perantauan tak pernah bersua dengan ibu. Malam ini ibu langsung memburuku dengan pertanyaan klasik yang selalu beliau tanyakan padaku semenjak tiga tahun terakhir ini melalui percakapan lewat telepon dan surat-suratnya. “Jadi, kapan kau akan menikah, Yung?”

Pertanyaan 'Ngiuuuung'

Setiap orang pasti pernah--bahkan sering--mendapati semacam suara gaduh dalam kepalanya. Seperti suara lebah mungkin. Mengaung--suara harimau apa lebah sih? kalau harimau mengaum bukan ya? Aduh bingung, nanti deh saya lihat KBBI lagi--tak jelas dalam pikiran. Iya, benar, semua orang selalu punya pertanyaan sendiri yang berkelebat-kelebat hebat dalam dirinya. Itu juga yang saya alami beberapa hari belakangan ini, tepatnya setelah saya memutuskan untuk mulai menulis di blog lagi.