#10DaysKF Hari ke-1: Menjinakkan Ekspektasi

Bagaimana tipe kekasih yang kamu dambakan?
Sumber gambar: instagram +Maudy Ayunda 
Pertanyaan semacam ini sebelas dua belas dengan 'apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?'. Sebab, jawabannya akan sangat spekulatif, over-expectation, ngawang-ngawangan, kalau tidak ingin dianggap sebagai khayalan yang terlampau tidak tahu diri. Aku misalnya, sejak usia lima tahun, setiap ditanyai tetangga mau jadi apa bila sudah besar nanti, sigap mulut mungilku menjawab: jadi dokter. Sekarang, dua puluh tahun kemudian, eksistensi terhebat yang berhasil kugapai sejauh ini masih berkisar pada satu keadaan yang membosankan ini: mahasiswa injury time yang masih sibuk bolak-balik bimbingan skripsi ke kampus agar segera menjadi manusia sarjana, sementara mantan-mantanku semasa SMA sudah kawin semua dan beranak berkali-kali (mantanmu-mantanmu kucingkah?). Bukan sarjana kedokteran, tentunya, sebagaimana yang kucita-citakan sedari balita. Ya, walaupun bisa juga aku berkilah ke orang-orang di kampung, "A-anu, Pak, Bu dan Saudara-Saudara sekalian, saya ini sarjana Psikologi, semacam dokter juga, tapi yang diobati lebih kepada persoalan kejiwaan manusianya. Tak terlalu jauhlah perbedaannya saya kira."

Dalam perkara mendambakan sosok kekasih juga kurang lebih sama. Sah-sah saja kamu memasang tarif kriteria semembahana mungkin. Apakah salah jika misalnya kamu ingin menikah dengan Oppa-Oppa ganteng asal Korea Selatan sana? Tidak salah sama sekali, dong. Wong, namanya juga ekspektasi, angan-angan, khayalan, boleh-boleh saja. Sama lazimnya dengan harapanku yang ingin menikahi Maudy Ayunda suatu hari nanti. Tak peduli betapa sekarang doi sudah punya kekasih. Tak peduli doi nggak kenal aku ini siapa. Tak peduli juga betapa harapanku itu ialah permisalan paling relevan dari peribahasa lama 'bagai pungguk merindukan bulan' (Bangun, Mik, bangun! Indonesia sudah merdeka!).

Selazimnya orang memasang cita-citanya setinggi langit ketujuh, sewajar itu pulalah aku, kamu, dan siapapun di luar sana mematok kriteria tertentu untuk kekasih dambaannya. Aku sudah pernah melewati masa-masa bergelimang ekspektasi semacam itu. Cinta pertamaku sedari SMP adalah seorang perempuan lembut yang sangat pandai menjaga aurat. Kerudungnya mendekati sempurna, walaupun tidak selebar hijab-hijab para akhwat bercadar itu. Dia pintar sekali, selalu juara dua di kelas (juara satunya aku, hehe), rajin sholat dan mengaji, patuh pada kedua orang tua, sopan dan santun perilakunya, tidak mau pacaran, dan bercita-cita jadi perempuan solehah yang hapal Al-Qur'an.

Saking dalamnya aku jatuh cinta pada perempuan ini, aku rela banting setir dari yang semula hobi menghapal rumus-rumus Fisika, tabel periodik Kimia, dan nama-nama ilmiah segala kingdom dalam mata pelajaran Biologi, ke arah mata angin yang sama sekali berlawanan: jurusan Ilmu Agama Islam yang semua pelajaran agamanya menggunakan buku pedoman berbahasa Arab. Cita-citaku adalah berguru hingga ke Al-Azhar, Kairo, meneladani kesalehan Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal itu, plus target hapal Al-Qur'an sebelum usiaku genap dua puluh.

Demi perempuan ini pula, aku bertekad untuk tidak akan pacaran seumur-umur, akan menjaga maruah sebagai muslim yang taat yang imannya tak lekang digerus zaman. Namanya juga anak remaja, serba berapi-api, perantauan baru beberapa kilometer saja dari rumah, semua ekspektasi dan rencana-rencana masa depan itu sudah kuanggap sempurna dan mudah saja mewujudkannya. Aku merasa pantas mendapatkan perempuan ini sebagai istriku nanti. Sebab telah kusiapkan diriku agar sekufu dengan tingkat kesalehahannya. Terdengar menakjubkan, bukan? Itulah kriteria kekasih dambaanku. Dulu. Dulu sekali. Sebelum jakunku tumbuh sempurna dan suaraku masih cempreng macam Justin Bieber belum akil balig.

Hari berganti, musim berlalu, zaman menua, usiaku bertambah, perantauanku semakin jauh, perempuan itu turut berubah. Dia pacaran dengan lelaki lain. Aku nelangsa. Harapanku hancur lebur. Perempuan yang kudamba menjadi kekasihku di masa depan, memilih untuk menanggalkan sebagian besar hal-hal yang dulu kukagumi darinya. Kecewa? Pasti. Kekecewaan itu menghempaskanku pada arus kehidupan yang berbeda jauh dari yang telah kurencanakan. Aku memutuskan untuk mulai pacaran, punya beberapa orang mantan (Bukan kucing, sumpah!), patah hati, hancur lebur, hampir saja gagal move on selama dua tahun, gagal ke Al-Azhar, sejengkal pun tidak mendekati kesalehan si Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta, dan belum berhasil menghapal seperdelapan pun dari 30 Juz Al-Qur'an di umurku yang tahun ini genap seperempat abad. Kurang sempurna apalagi pencapaianku?

Pada akhirnya aku belajar bahwa terlalu mendewakan ekspektasi akan mencelakakan hidupku sendiri, cepat atau lambat. Oh, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak putus asa. Hanya saja, ada masanya dalam hidup, kita harus berdamai dengan keinginan-keinginan dan harapan yang sekiranya, setelah diukur dengan kadar kemampuan yang dimiliki, tidaklah masuk akal.

Sekarang, bila kamu bertanya padaku, "Bagaimana tipe kekasih yang kamu dambakan?". Aku tidak akan menguraikan kriteria yang muluk-muluk. 

Jawabanku hanya akan sesederhana ini: muslimah, siap mengiringi perjuanganku dari nol, bersedia untuk sama-sama saling menyempurnakan keimanan, dan mau mencintai mamaku sebagaimana dia mencintai ibunya.

Oh, ya, terakhir, penting untuk kutekankan. Kekasih yang kumaksud di sini jelas-jelas sosok seorang istri, bukan pacar. Aku sudah lelah pacaran. Kalau ta'arufan, bolehlah.

Jadi, Maudy Ayunda my dear, maukah kau putus dari pacarmu dan menikah denganku?

Malang, 18 Januari 2017
Ditulis dalam rangka mengikuti 10 Days Writing Challenge bersama #KampusFiksi

Komentar